Untitled Document
4bln = 3milyar 30 Menit langsung Kerja di Gogonai Internet Sambil Kerja dan Bisnis Online Indonesia Typist.Com Distro Linux Ter-murah dari yang Murah
Cukup punya e-mail dan ATM BCA, anda sudah bisa be Ingin bekerja dari rumah, kantor via internet? Ga Indonesia Typist membuka kesempatan bisnis online Lebih dari 500 jenis dan versi distro Linux.Rata-r
       

Kembali Ke Index















Artikel Pilihan Pengunjung
(1 voter) 7 Langkah cara membuat hastakarya "Dompet Gue Banget"
(1 voter) DEMONSTRASI PARA TOKOH
(1 voter) LENGKING
(1 voter) Mari Berbagi untuk Menggandakan Kebahagiaan Kita
(2 voter) Onani
(1 voter) Fenomena Alam Untuk Renungan Kita Bersama
(1 voter) Tips Penting Agar Enteng Jodoh !
(1 voter) Perempuan Merdeka
(1 voter) Tips Membuat Situs E-Commerce yang Baik
(1 voter) Manusia Hidup untuk Belajar

Article
 
Rating: (0 voter) | Vote-Comment This Article

Cerpen
MARAHNYA YANG TERAKHIR
Penulis : Somnium ( Spirit of Mozza )
Posting bulan : -
Website :  -

Sebenarnya parasati pun tahu, alasan apa yang membuat teman laki-lakinya marah-marah. Sederhana, cinta. Maka setiap kali teman laki-lakinya marah-marah, parasati berusaha mengulum senyum di dalam hatinya. Mencoba sedikit menenangkan dengan kata-kata bijak, atau tidak membalas sepatah kata pun, bahkan untuk menatap matanya. Namun parasati senang, senang nggak karuan, karena dengan itu dia bisa tahu kalau teman laki-lakinya masih menaruh hati padanya. Dengan artian pula, parasati berhasil mempermainkan perasaan teman laki-lakinya itu. Dengan alasan itu juga parasati selalu menunggu teman laki-laki nya itu marah-marah, bahkan tanpa alasan.
Sebenarnya parasati sudah berteman lama dengan teman laki-lakinya itu. Hampir dua tahun. Sedikit-demi sedikit parasati mulai tahu kalau teman laki-lakinya itu suka padanya. Dari ketahuan yang sedikit itulah parasati menjaga sikapnya kepada teman laki-lakinya. Lagi-lagi tujuannya satu, memancing teman laki-lakinya itu marah-marah. Semakin teman laki-lakinya marah karena kelakuan dia, parasati akan kegirangan luar biasa, tentu dalam hatinya. Seperti pada saat mengeluarkan sperma saja, nikmatnya luar biasa.
“Kamu kok nggak dateng kemarin, kamu kan udah janji, kamu sengaja ya buat aku nunggu, lantas kamu kemana, sama siapa. Kamu keterlaluan paras..!”
teman laki-laki nya itu menatap langit. Menampakkan wajah garang bercampur emosi. Meledak-ledak, hingga wajahnya merah. Berarti sekarang parasati mengucap kemenangan di dalam hatinya. Meskipun wajahnya hanya merunduk, matanya terus menatap semut-semut yang bergotong royong mengangkuti serpihan-serpihan makanan. Seperti orang mau dihukum mati saja.
“Aku kemarin nemenin mama…”
“Ah.., kamu sendiri kan yang udah janji, bukan aku kan?!. Kamu kok seenaknya gitu sih. Lantas, mengapa hand phone mu dimatikan?!, biar aku nggak hubungin kamu kan?, udahlah nggak usah alasan lagi..!”
ya, ya, ya. parasati berhasil lagi membuat teman laki-lakinya marah. Padahal kalau mau dirunut, parasati nggak pernah janji sama teman laki-lakinya untuk ketemuan. Yang dia katakan sebelumnya adalah kalau dia akan menemui teman perempuannya di tempat ini. Namun begitu dia berusaha menampakkan alasan kalau memang dia salah, padahal aslinya tidak. Sementara teman laki-lakinya terus saja mengintervensi parasati. Seakan dia punya hak untuk itu. Seakan parasati itu sudah resmi jadi pacarnya. Seakan dia sudah jadian sama parasati dalam kurun yang lama. Seakan-akan saja dia.
Apa yang dilakukan parasati jika situasi seperti itu?, sederhana. Parasati punya trik khusus untuk meredakan lagi. Tentunya jika parasati sudah puas menikmati amarah teman laki-lakinya itu. Dia akan bilang begini, “Maaf ya…, aku salah. Aku memang orang lugu yang nggak tahu apa-apa. Aku bodo’, aku masih kaya’ anak kecil. Kamu masih marah ya…?”. Dengan wajah memelas yang tak terlihat dibuat-buat. Lantas apa yang dilakukan teman laki-lakinya parasati?. Dia menghela napas panjang. Memegangi janggutnya yang menggelantung, atau menatap tajam mata parasati yang bening seperti air dari ranu kumbolo. Teman laki-lakinya akan berucap, “Ya sudahlah…, aku tidak akan marah-marah lagi. Lagian, aku bukan siapa-siapa mu..”. mereka saling berdiam, sambil menunggu momentum yang tepat untuk pergi dan menjalani kemasing-masingan jalan.
Parasati kembali lagi ke dunianya. Dia sudah puas dengan keberhasilan membuat teman laki-lakinya marah-marah. Sekarang yang ada di pikiran parasati adalah menjalani hidupnya sendiri. Kalau aku bisa meyakinkan diri, parasati sudah lupa dengan teman laki-lakinya yang tadi marah-marah. Hal ini terbukti, saat teman laki-lakinya menelefonnya, dengan enteng parasati menanyakan kepada teman laki-lakinya tentang apa yang teman laki-laki nya lakukan seharian tadi. Padahal mereka baru saja beradu maaf.
“Hallo, kamu ya….., seharian kemana saja…”
“Aku.., aku kan tadi bersamamu…”
“Oh ya, aku lupa….”
“Maaf kalau aku tadi terlalu emosi. Aku marh-marah tanpa alasan, aku menuntutmu yang macam-macam, aku, aku minta maaf ya…”
“ah, nggak apa-apa, biasa saja, aku maklum kok..”
lalu berapa panjang kata lagi yang teruntai-untai menjalin harmoni antara kebohongan dan keindahan. Busuk dan harum, semuanya teruntai. Parasati adalah orang cerdas yang banyak akal sekaligus sutradara canggih pengatur jalannya situasi.
* * *

aku sebenarnya juga tahu. Tapi aku pura-pura saja menutup-nutupinya. Alasannya sederhana juga, aku tak ingin kehilangan dia. Memang terlalu bodoh kalau aku pura-pura tidak tahu. Karena aku seperti aktor sinetron yang disuruh memerankan sesuatu oleh sang sutradara. Namun sutradara itulah yang membuat aku bungkam tanpa harus melakukan yang tidak dia suka. Aku juga sadar, kalau dia hanya butuh kemarahanku. Hanya saja, aku butuh kemarahanku itu sendiri. Jadi, apa salahnya marah-marah tanpa alasan sama dia.
Dan itu selalu terjadi. Dia selalu melupakan janjinya. Dia sudah janji untuk datang menemuiku hari sabtu siang di sudut taman kota. Tepatnya tadi malam dia menelefonku. Berbicara mendesah lirih dan banyak berbasa-basi. Katanya banyak yang mau dia bicarakan. Dari tentang hari-harinya yang kosong, perkara keluarganya, religinya yang terombang-ambing, sampai masalah ku dan dia sendiri. Aku sih sangat antusias. Jelas, aku sangat antusias mendengarkannya waktu di telefon. Kadang pula aku memberikan solusi agar dia begini begitu. Memberi petuah di setiap keraguannya, memperingatkan dia kalau dia salah langkah menurutku. Tapi untuk selengkapnya ya hari sabtu ini. Dia akan datang dengan membuncah kata-kata, sekali lagi, membuncah kata-kata.
Apakah kalian percaya dia akan datang?, apakah kalian percaya dia akan tepat waktu kalau toh dia datang?, atau apakah kalian percaya aku percaya omongannya?, apakah perlu ku jawab?. Begini, yang pertama aku pun sudah dapat memastikan kalau dia tidak datang. Karena aku sangat yakin kalau dia hanya akan membuat aku marah saja, tidak lebih. Untuk pertanyaan yang kedua, jawabannya sudah sangat jelas, dia tidak akan tepat waktu. Hal itu bisa aku pastikan karena dia tidak akan datang. Bagaimana dia akan datang tepat waktu kalau dia tidak datang sama sekali, aneh kan?. Dan yang ketiga, aspek inilah yang paling membodohkanku. Benar, aku nggak pernah percaya akan apa yang dia janjikan. Pertama, aku sering sekali mengalami hal yang sangat serupa. Dia berjanji, aku meng-iyakan, dan dia membatalkan. Dan yang kedua, karena aku mencintainya. Artinya, kalau aku dikecewakan atau merasa diingkari janji olehnya, otomatis dari sudut pandangnya aku pastilah marah besar. Kemarahan besar itu adalah keiginannya. Dan karena aku mencintainya, sudah seharusnya aku menuruti apa yang dia inginkan. Makanya walaupun aku tahu kalau dia akan mengingkari janjinya, aku tetap akan datang. Agar supaya aku bisa marah-marah dan dia akan senang. Kesimpulannya, aku akan datang sabtu siang di sudut taman kota, lalu menunggu ketidak datangannya. Apakah aku bodoh?, atau membodohkan diri?, atau menterpaksakan bodoh?, kalianlah yang dapat menentukan pertanyaan-pertanyaan itu. Namun langkahku pasti, pasti datang ke sudut taman kota. Bodoh ya aku ini?. Parasati memang membuat otakku kolep, keracunan, hingga aku menjadi bodoh.

* * *

Kali ini dia pasti akan marah lagi. Tapi ku pastikan marahnya kali ini adalah marahnya yang terakhir, pasti!. Sebenarnya aku juga tak tega membuatnya seperti itu, seperti orang yang berharap sia-sia, muspro gitu loh!. Aku pun heran, perasaan apa yang menggelayutiku hingga yang paling ku tunggu dari seorang dia adalah kemarahannya terhadapku. Padahal kalau dirunut lebih cermat, aku ya nggak salah juga. Itu lah yang ku bingungkan. Aku tak berkutik kalau dia sudah marah. Bahkan aku tak kuat menatap matanya, bagai harimau geram.
Sebenarnya aku sengaja mengajaknya bertemu di sudut taman kota. Masalahnya adalah membuktikan kalau apa yang selama ini dia tuduhkan adalah salah, semuanya salah. Esensi yang terpenting dari pertemuanku sabtu siang ini adalah aku ingin membuktikan kalau aku juga penepat janji. Jadi salah pandangannya selama ini, kalau aku selalu memanajemen janji-janji ku, hanya untuk membuatnya marah. Aku juga yakin, marahnya selama ini adalah hasil dari manajemen dirinya sendiri. Dengan ketahuanku akan apa alasannya marah-marah, aku jadi merasa kalau aku hanya dipermainkan. Coba kalian pikir, seorang laki-laki ingin menunjukkan kalau dia suka atau simpatik kepada wanita, tapi selalu menunjukkan kemarahannya, aneh kan?. Tapi itulah dia. Tadinya aku sih senang, bukan karena apa-apa, karena tampak goblok saja. Jadi dengan begitu kan ketahuan kalau yang namanya laki-laki itu pasti tampak bodoh kalau sedang dilanda asmara, aneh, dan terlalu mengada-ada. Dan kebanyakan dari mereka tidak pernah sadar akan itu.
Dan kini dia akan sadar, kalau kemarahannya itu muspro, sia-sia. Ada dua kemungkinan. Yang pertama, dia tidak akan marah-marah lagi, karena…?, yang kedua, dia akan marah tapi kali ini sebenar-benarnya marah tanpa di buat-buat dan tanpa tujuan politik, membuatku simpatik. Aku akan bisa melihat nya yang sebenarnya. Bagaimana ya kalau dia marah dengan sesungguhnya?, lucu kali ya?.

* * *
Danar tepat sekali datang di sudut taman kota itu. Tepat, seperti jam yang dijanjikan parasati. Sepertinya dia sudah menahan kecewa sejak tadi. Mungkin saja sejak dia mandi atau memakai kemeja di kamar nya. Terlihat mukanya yang dipaksa berseri-seri, kuluman senyumnya yang di kombinasi dengan kerutan kening, atau hembusan napasnya yang kelihatan berat sekali. Danar duduk di bangku bawah pohon beringin rindang yang juga sudah dijanjikan parasati. Menunggu dan menunggu, tanpa harapan dan hanya semu, dengan satu ketahuan pasti, yaitu ketidak datangan. Tapi danar salah. Danar malah terbelalak kaget tak percaya. Ketika parasati menepuk bahu kanannya seraya tersenyum melihat danar yang tampak bodo’. Kekagetan danar bertambah-tambah, ketika danar tahu kalau parasati datang dengan ku. Aku tahu kalau danar menaruh ketidak senangan dalam kekagetan itu. Tatapnya yang sinis ketika mengucapkan selamat siang kepada parasati, tetapi matanya menghunus kepadaku. Aku sih santai saja, dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
“Kenalin, kakak’ku..” Ucap parasati kepada Danar seraya memegang tangan kananku yang diarahkan ke danar.
“Indra..” ucapku.
“Danar..”
dengan buru-buru danar melepaskan jabatan tangannya. Sepertinya danar memahami kalau yang dimaksud ‘kakak’ oleh parasati adalah ‘pacar’. Danar lebih memilih memandangi parasati ketimbang mencoba mengakrab dengan ku. Aku jadi pendengar setia antara danar dan parasati. Namun aku masih menghargai danar. Aku juga mungkin merasakan apa yang dirasakan danar kali ini. Bagaimana perasaan seorang laki-laki yang tulus mencintai seorang wanita, tapi hanya di jadikan mainan. Oleh karena itu aku mencoba melangkah menjauh dari mereka berdua. Menyusuri taman kota perlahan-lahan, dan duduk di pojok selatan taman kota itu. Dari sini aku dapat menikmati pertengkaran danar dan parasati. Kulihat parasati menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Sementara muka danar berang dan garang. Danar membentak-bentak, kadang juga memaksa parasati untuk membuka telapak tangannya yang menutupi wajah. Parasati hanya menggeleng sambil menahan isakan tangisnya.
Setelah agak lama, akhirnya mereka berdua berpisah tanpa kata-kata. Danar berjalan kearah utara, sementara adikku ke selatan mendekatiku. Aku tahu benar kalau mereka benar-benar berpisah, paling tidak dalam keseriusan.
“Kak, dia benar-benar marah yang sebenarnya..” kata adikku dengan sedikit terisak.
“Itukan yang kamu harapkan..”
“Tidak, aku tidak ingin seperti ini….”
Aku tahu apa yang dimaksudkan adikku, parasati. Tapi aku lebih tahu perasaan danar yang lebur membaur dengan harapan yang berujung ketidak terwujudkan. Danar pasti berfikir kalau parasati telah mempunyai pacar lagi, sementara parasati pasti berfikir bahwa danar telah benar-benar meninggalkannya sekarang. Sementara aku berada di dua sisi, antara perasaan adik kandungku dan laki-laki. Cinta memang aneh, seaneh kisah ini.





Gambar :



Penulis:


Somnium


Vote-Comment
User :
 
Password :
 
Rating :
Comment:
 

Berpatisipasilah dalam memberikan nilai / masukan pada artikel yg ada, hal ini akan membantu penulis memperbaiki artikel yg dibuatnya, - editor

Last Vote-Comment (Total 0 voter - 0 comment)
   
Total hit mulai 24 mei 2016

acer predator
counter by : www.reliablecounter.com
Copyright ©2006 Desain:kepitingkering