Untitled Document
Website www.VnetCenter.com DIJUAL make Monay While Making Friends Dijual Kulkas untuk SoftDrink CARA INSTANT MEMBANGUN JARINGAN BISNIS
<div align=center><a href=http:/www.fastd Your friend invited you to join FrensZone, the lat Kondisi bagus, watt nya kecil, 4 tingkat rak, harg Pelajari FORMULA Bagaimana Anda bisa membangun Jar
       

Kembali Ke Index















Artikel Pilihan Pengunjung
(1 voter) 7 Langkah cara membuat hastakarya "Dompet Gue Banget"
(1 voter) DEMONSTRASI PARA TOKOH
(1 voter) LENGKING
(1 voter) Mari Berbagi untuk Menggandakan Kebahagiaan Kita
(2 voter) Onani
(1 voter) Fenomena Alam Untuk Renungan Kita Bersama
(1 voter) Tips Penting Agar Enteng Jodoh !
(1 voter) Perempuan Merdeka
(1 voter) Tips Membuat Situs E-Commerce yang Baik
(1 voter) Manusia Hidup untuk Belajar

Article
 
Rating: (1 voter) | Vote-Comment This Article

Cerpen
LENGKING
Penulis : Somnium ( Spirit of Mozza )
Posting bulan : -
Website :  -

Bapak pernah bilang ketika aku masih kecil dulu, “kamu harus segera bangun kalau pada malam hari ada suara lengking yang nyaring”. Aku menjawab,”suara lengking dari apa pak..?”. beliau tak menjawab, hanya tersenyum misterius. Mengelus lembut rambutku. Sampai sekarang tak pernah kutahu arti dari kata-kata bapak dulu. Suara lengking dari apa?. Sampai pada malam ini, ketika kudengar suara lengking nyaring itu yang entah berasal dari mahluk apa.

Ku buka tirai jendela. Pekat masih belum hilang. Sepi menerawang. Dari jendela kamar lantai dua rumahku ini, hamparan genting-genting rumah membisu dalam bahasa malam. Rembulan redup menyusup dibalik kabut langit malam. Suara lengking itu tadi berasal dari luar. Seakan menjerit sakit seperti terlindas benda berat. Seperti suara wanita, tapi mirip juga suara laki-laki. Seperti suara anak-anak, tapi memungkinkan juga suara orang tua renta. Bulu kudukku berdiri. Aku menggidik, lalu menutup tirai jendela itu.

Darimana suara lengking itu?, Tanya batinku. Apakah dari kuntilanak pohon asem perempatan jalan?. Pohon asem yang mulai menua diantara mall-mall dan bangunan perkantoran?. Atau Cuma anjing liar yang tak dapat tulang malam ini?. batinku masih melogikakan suara lengking itu. Jantungku berdegup, aku tak menemukan jawab.

Paginya kutanya istriku,”Mam, tadi malam kamu dengar sesuatu?”. Istriku, yang sedang mengoles selai coklat di roti bakar itu, melihat aneh. “suara apa pap..?, tadi malam sepertinya mami tidur pulas-pulas saja kok, nggak ada apa-apa..” jawabnya. Aku meraih roti bakar selai coklat yang dibuatnya. Baru saja pada gigitan pertama, lengking itu nyaring lagi. Menjerit pekak hampir merobek gendang telingaku. Spontan saja ketutup telingaku sambil kuhamburkan roti bakar itu. Sesaat setelah lengking itu berhenti, aku terdiam. Istriku menatap aneh. “ada apa pap..?”. “mami mendengar sesuatu?”. “dengar apa?”. Apa pendengaranku saja yang sedang trouble. Tapi suara itu begitu nyaring menumbuk gendang telingaku tadi. Seperti serigala yang tercekik pada malam larut yang sangat sepi. “pap.., nggak pa-pa kan?” kata istriku sambil memegang pundakku. “papa berkeringat?”. Ternyata keringat membasah dikeningku tanpa kusadari. Segera istriku menyapu keringat itu dengan tisu. “sudah pap, nggak usah ngantor dulu, sepertinya papa kurang sehat, chek-up hari ini juga ya pap.”

Setelah kupastikan aku baik-baik saja, aku ngantor. Sebelum berangkat, istriku merapikan kerah kemeja sambil menatapku khawatir. “bener pap, nggak pa-pa?”. aku mengangguk ringan sambil tersenyum kecil. Ku kecup kening istriku, lalu berangkat.

Sedan ini meluncur mulus. Pagar membuka otomatis, dan satpam yang menjaga pintu rumah memberi salam hormat ketika aku lewat. Prapto menyodorkan Koran pagi ini. sambil memberi salam,”selamat pagi pak..”, kemudian menyetel musik kesukaan, ketawang larasmaya. Rasanya seperti dirumah lagi. Baca Koran sambil dengar alunan gamelan jawa itu. Musik kesukaan bapak tentunya. “Prapto, bagaimana kabarmu pagi ini?”, sapaku. “oh..tentu baik pak, prapto gitu loh..”, jawabnya slengean tapi menyenangkan. Aku tersenyum. supir pribadiku itu selalu bisa menghiburku. Pikiranku tentang lengking itu sedikit hilang.

Dalam perjalanan ke kantor, aku mendengar lengking itu lagi. Kali ini tidak se-nyaring tadi malam, namun cukup membuatku terhenyak dari jok belakang sambil menutup telinga. Peluhku tiba-tiba turun dari pelipis. Aku seperti orang kebingungan dan mencari-cari pegangan. Prapto khawatir melihat tingkahku yang aneh itu. “Pak.., pak..., ada apa pak.., apa bapak sakit...”. Aku melihat mata Prapto yang menyala. Aku seperti melihat siluet iblis merah yang bertanduk. Mulut Prapto mengeluarkan taring seperti srigala. “Hah..!, siapa kau!, Prap.., Prapto!, dimana kam..”. kemudian dia menyeringai dan mengeluarkan lengking sambil mau memakanku. Sontak aku membanting tubuhku ke belakang dan membentur jok. Kepalaku terbentur kaca belakang. Sepertinya aku pingsan.

Ketika aku sadar, aku sudah berada di tempat tidur dalam ruang kantorku. Kepalaku masih berat. Ke pegang tengkuk yang terasa ngilu ini. Ku coba angkat kepalaku. Sekretarisku yang cantik segera menyodorkan segelas air putih. Ku tatap sekeliling, prapto dan beberapa anak karyawanku bermuka cemas. “Ada apa ini..?” Prapto menceritakan panjang lebar. Tentang apa yang tadi terjadi. Aku tak seberapa mendengar kata-katanya. Yang aku ingat adalah suara lengking, dan siluet iblis dengan taringnya yang mengerikan.

Ku putuskan untuk pergi ke seorang psikiater. Aku harus konsultasikan hal ini. Ada yang tidak beres, dan aku yakin psikologiku sedikit tertekan. Tapi, apa yang membuatku tertekan?.

“Mungkin anda stress, apakah ada hal yang menyita pikiran anda, atau malah mengganggu pikiran anda?” tanya psikiater itu.

Aku coba mengingat-ingat tentang semua proyek perusahaan ku. Rasanya semua baik-baik saja dan malah sukses. Terakhir ini, perusahaan sedang menanamkan investasi untuk pembangunan sentra ruko di sebuah kota. Hubungan ku dengan istri ku pun baik-baik saja, walau kami belum dikaruniai anak. Perkara anak, istriku sendiri yang meminta untuk menunda dulu punya anak. Dia masih sibuk dengan bisnis tanaman hias yang dia kembangkan bersama teman-temannya. Dan kurasa, memang belum memungkinkan untuk punya anak dalam keadaan sibuk seperti ini.

“Sepertinya tidak pak..” jawabku.

Psikolog itu pun berbicara panjang lebar. Menanyaiku dengan segala macam pertanyaan, hingga seperti seorang polisi yang mengintrogasi penjahat sampai penjahatnya itu mengaku. Tiba-tiba Lengking itu menjerit entah darimana. Di luar jendela, dari balik pintu, atau dari atas atap ruangan ini. Entah, darimana. Aku seperti diburu-buru sesuatu. Sementara psikolog itu masih berbicara tentang teori-teori psikologis yang tak aku mengerti.

“Pak.., pak.., bapak masih memperhatikan saya..?”
“iya, iya..., berapa pak..?”
“berapa apanya pak..?” tanya psikolog itu, bingung.
“berapa saya harus bayar untuk konsultasi ini..?”
“Lima juta cukup pak..” jawabnya sambil tersenyum puas.

Dan aku semakin sering mendengar lengking itu. Dimanapun. Di kantor, di rumah, di stasiun, di jalanan kota, di depan pintu gerbang gedung direktorat pajak, di kamar mandi, di ruang makan, saat membaca koran, saat menulis memo ke karyawan, saat menggauli istriku, saat buang air besar, saat rapat direksi, saat menemui tamu dari luar negeri, saat.., saat..., saat semuanya berjalan normal bagi orang lain.

Aku tak tahan lagi. Karyawanku bilang aku harus ambil libur dan jauh dari kebisingan kota. Agaknya memang aku butuh istirahat. Aku konsultasikan kepada istriku. Dia menyarankan aku untuk memenangkan diri di rumah ibuku, di desa. Sementara dia tak bisa ikut, karena bisnis tanaman hiasnya tak bisa di tinggal. Istriku juga bilang untuk tidak lupa ziarah ke makam bapak dan ibu. Aku sangat setuju. Lagi pula aku sudah lama tak pulang.

Hamparan sawah, bukit barisan yang tak terlalu tinggi, serta hawa semilir angin menyambutku. Jalanan di desa ini sudah cukup baik. Satu-dua pabrik kulihat dalam perjalanan. Desa ini memang indah, asri, dan memiliki potensi. Cocok untuk dikembangkan sebagai tempat berlibur akhir pekan untuk orang-orang kota yang selalu sibuk. Mataku sedikit tertarik oleh sebuah bukit yang hampir gundul di sebelah utara. Dimana truk-truk dan alat berat lainnya tampak sibuk disekitarnya. Aku tersenyum. Aku tahu apa yang akan terjadi. Ternyata pengembang telah melirik desa ku untuk dijadikan aset bisnis. Hal yang selama ini aku lakukan bersama perusahaan yang aku pimpin.

Sanak familiku yang masih tinggal di desa itu segera menyambut kedatangan ku. Paman Harun terlihat tua sekarang. Rambutnya mulai memutih, dan keriput mukanya terlihat jelas. Sepeninggal bapak, paman Harun lah orang yang dituakan di desa ini.

“mana istrimu le..”
“sibuk ngurusin bonsainya paman...”
“belum hamil ta?”

Aku Cuma tersenyum. Pertanyaan lebih terasa menyindirku. Walau aku sadar aku belum memberikan generasi baru untuk silsilah keluargaku selanjutnya. Aku memang anak laki-laki satu-satunya yang akan melahirkan generasi keluarga. Sayang, sampai bapak-ibu meninggal, aku belum bisa memberikan cucu kepada mereka.

Di teras rumah paman ini, bisa kulihat senyap dan kurasakan tenangnya alam desaku. Dan lengking itu, sepertinya masih enggan meneriakiku. Apakah mungkin karena pengaruh ketengan desa ini?, aku jadi sentimentil. Paman datang dan membawakan dua gelas kopi.

“Bagaimana perusahaanmu?”
“Baik-baik saja paman. paman Harun sehat-sehat saja?” sambil ku seruput kopi itu.
“Ya, seperti yang kulihat. Sepeninggal bapakmu, paman jadi semakin sibuk mengurusi orang-orang kampung kita. Jadi, bukan hanya kau saja yang sibuk mengurusi para karyawanmu, paman juga sibuk” canda paman sambil tersenyum.

Malam semakin larut. Suara jangkrik, hembusan angin yang tipis, serta redup rembulan, sejenak melupakan aku tentang lengking yang akhir-akhir ini menggangguku. Sampai aku terusik lagi, saat paman menanyaiku.

“Kau tidak merasakan apa-apa Ruz..?” tanya paman. Mata paman menyorotkan tanya yang memaksaku menjawab sesuatu.
“Merasakan apa paman?”
“Ya, mungkin sesuatu yang mengganggumu, mungkin”
“Ti, tidak paman, aku merasa nyaman disini, aku serasa pulang kembali” jawabku.
“Besok pagi ziarah ke makam bapak Ruz, dan kau harus lihat sesuatu yang membuat desa ini menjerit. Sekarang kau tidurlah, kau terlihat lelah”

Menjerit?, mengapa desa yang indah dan tenang ini bisa menjerit?. Kata-kata paman yang ringkas itu mengganggu benakku. Dan apa hubungannya dengan ziarah ke makam bapak?. Apakah...

Pagi yang riang. Kulihat masyarakat desa giat-giat bekerja. Paman Ruz terlihat menemui beberapa orang di pelataran. Dari caranya berpakaian, terlihat kalau mereka bukan orang desa. Pakaiannya rapih, seperti yang biasa dipakai karyawan-karyawanku. Orang-orang yang sepertinya tidak asing bagiku. Apakah mereka orang-orang dari anak perusahaanku?. Sebelum ku dekati, mereka keburu pergi dengan raut muka yang tak ramah pada paman Harun. Paman Harun hanya menatap sedan silver itu pergi.

“Siapa itu paman?”
“Nanti kau akan tahu. Ayo, kita ziarah ke makam orang tuamu..”
“Mari paman..”

Makam orang tuaku ada di sebuah bukit yang tak terlalu tinggi. Tempat peristirahatan yang nyaman. Dari sini bisa kulihat keasrian desaku. Rumahku, tempat bermainku dulu, sungai, perbukitan, persawahan, ladang jagung, dan orang-orang yang tak pernah lelah bercocok tanam.

“Kau juga harus melihat itu..” paman Harun menunjuk pada sebuah bukit yang ku lihat waktu itu. Perbukitan yang gundul, dan kesibukan pembangunan di sekelilingnya.

Kami tepat sejajar antara makam bapak, dan proyek pembangunan di bukit itu. Tiba-tiba lengking itu menjerit satu kali, bergema, lagi-lagi entah darimana. Sontak aku menutup telingaku. Namun lengking itu seperti mendendangkan salam perpisahan dengan ku. Nada yang ditinggalkan lengking itu begitu miris terdengar.

Paman harun menatap tak curiga apa yang baru saja kulakukan. Seakan-akan sudah terbiasa melihatnya. Ku buka telingaku. Ku tatap pusara bapak. Kini aku mengerti apa maksud bapak saat itu. Saat aku harus segera bangun kalau pada malam hari ada suara lengking yang nyaring.

Gambar :



Penulis:


Somnium


Vote-Comment
User :
 
Password :
 
Rating :
Comment:
 

Berpatisipasilah dalam memberikan nilai / masukan pada artikel yg ada, hal ini akan membantu penulis memperbaiki artikel yg dibuatnya, - editor

Last Vote-Comment (Total 1 voter - 1 comment)
   
Total hit mulai 24 mei 2016

acer predator
counter by : www.reliablecounter.com
Copyright ©2006 Desain:kepitingkering